SEJARAH LAHIRNYA BULETIN SAHARA HIMAB-UH

0 komentar



Universitas Hasanuddin memiliki 14 Fakultas yaitu Fakultas Sastra, Hukum, Ekonomi, Sospol, Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Teknik, MIPA, Perikanan dan kelautan, Pertanian, Peternakan, Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Kehutanan. Setiap fakultas memiliki jurusan masing-masing, khusus untuk fakultas sastra memiliki 9 jurusan yaitu Sastra Arab, Sastra Inggris, Sastra Indonesia, Sastra Jepang, Sastra Prancis, Sejarah, Arkeologi, Sastra Daerah, dan Sastra Cina. Akibat banyaknya jurusan mengakibatkan sebagian civitas akademika yang beralmamater Unhas kurang menghafal bahkan tidak tahu kalau jurusan-jurusan yang berada di Unhas. Terbukti pada saat saya mengikuti seminar di salah satu fakultas yang bergerak dibidang bercocok tanam alias fakultas pertanian. Salah satu senior dari fakultas tersebut bertanya kepada saya. 
“Dari Fakultas mana de?” dari fak Pertanian
“Dari Fakultas Sastra Ka” jawabku
“Jurusan apa?”
“Sastra Arab.” jawabku tegas
            “Memang ada jurusan sastra Arab? Saya kira hanya sastra Inggris.”
            “……………” Diam sambil menunduk penuh kesabaran.

Saat itu saya diam, saya merasa emosi mendengar tanggapannya. Saya bertanya dalam hati apakah senior ini sifatnya kupu-kupu (Kuliah Pulang)? Sehingga hanya tahu fakultasnya saja tampa tahu jurusan yang berada di dalamnya.  Atau memang jurusan saya tidak terlalu dikenal di fakultas lain? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya sulit untuk tidur. Sehingga keesokan harinya saya mencoba untuk menguji orang-orang dari fakultas lain seperti kedokteran, kehutanan, Peternakan, Perikanan dan Kelautan mengenai jurusan saya. Ternyata beberapa di antara mereka memang betul hanya mengenal sastra Inggris saja yang notabene mahasiswanya banyak dibanding jurusan lain yang berada di Fakultas Sastra. Hati saya terasa teriris, mendengar ketidaktahuan mereka tentang hadirnya jurusan sastra Arab. 

            Saat itu kembali saya bertanya lagi, jika sastra Arab tidak dikenal apalagi himpunannya yaitu HIMAB (Himpunan Mahasiswa Asia Barat).  Saya berusaha untuk menemukan solusi agar mereka bisa sadar bahwa jurusan kami ini ada di Unhas, bukan jurusan yang illegal, dan saya ingin mereka juga bisa mengenal himpunan kami yaitu HIMAB. Lama saya berfikir akhirnya menemukan satu solusi yaitu dengan membuat BULETIN. Fikiran itu muncul dengan melihat majalah-majalah yang ada di Mushalah Al-Adaab dan surat kabar Identitas. Identitas dikenal dengan surat kabarnya. Saat itu saya berharap HIMAB pun bisa dikenal  dengan buletinnya. Pada masa kepengurusan kanda Hasrul 2007, saya pun dijadikan sebagai koordinator divisi kreativitas. Bagi saya ini adalah salah satu langkah awal untuk membuat ide saya menjadi nyata. Dalam program kerja khusus divisi saya memasukkan proker tersebut yaitu pembuatan Buletin Sahara. Kata Sahara adalah kepanjangan dari Salam Hangat Asia Barat.
 
            Hadirnya Buletin Sahara dalam program kerja ternyata dalam pembuatannya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saat itu saya mengalami beberapa kendala di antaranya yaitu kendala dana, dan kendala SDM yang memiliki hobi dengan menulis. Hanya sedikit dari warga HIMAB yang suka dan tahu tentang menulis. Kembali saya mencari solusi agar mereka senang dan mempunyai hobi untuk menulis. Saya membuatkan sekolah menulis seperti yang pernah saya lalui dalam sebuah organisasi yang bergerak dibidang kepenulisan yaitu FLP (Forum Lingkar Pena). 

Saya menentukan tanggal dan tempat serta pemateri yang saya ambil dari FLP. Ternyata hanya sedikit yang hadir, kurang lebih hanya 10 orang di antara 10 orang itu hanya 7 orang yang serius mengikuti materi. Saya mulai kecewa dan merasa ingin berhenti untuk melanjutkan niat saya untuk membuat buletin ini. Tapi bagaimanapun hal ini telah menjadi proker yang mau tidak mau harus dilaksanakan. Dengan ucapan bismillah saya tetap pada tekat awal agar mewujudkan buletin sahara. Untuk pembuatan awal bulletin hanya 2 orang yang bisa membantu saya untuk membuatnya yaitu Sigit Walgito dan Asriani.
 
            Tekat saya yang semula agar dengan hadirnya buletin ini dapat dikenal mahasiswa dari fakultas lain. Maka dari itu daftar isi yang ada di dalam buletin mencerminkan Arab dengan kaitannya hot news setiap bulan. Daftar isi yang saya cantumkan adalah: Kajian Dunia Arab (KDA), Berita Kampus, cerpen, puisi, Karikatur, tokoh Arab, mufradat bahasa Arab, Galeri foto, dll. Dengan jumlah kami yang sedikit membuat saya tidak putus asa. Saya memberikan job kepada mereka sesuai hobinya. Seperti Asriani yang suka menulis puisi, dan Sigit yang hobi mendesain, menulis KDA, dan menulis biografi tokoh Arab. Sisanya saya yang kelola berbekal dari pengetahuan kepenulisan. 

            Tepat pada tanggal 3 Mei 2012 kami menerbitkan buletin pertama sahara yang pembuatannya dilakukan di jalan sejati pondok salsabilah Unhas. Masalah selanjutnya setelah buletin hadir adalah kendala dana. Saya tidak tinggal diam, saya mencoba mencari dana dengan melakukan list donator kepada setiap mahasiswa dan dosen di jurusan sastra Arab. Alhamdulillah,  dengan terkumpulnya dana hasil list donator tersebut membuat kami bisa memperbanyak buletin untuk disebar.

            Hadirnya satu buletin Sahara membuat beberapa rekan-rekan warga HIMAB ingin menyalurkan karya mereka. Hal ini merupakan suatu kesyukuran bagi saya untuk tetap membuat buletin ini tetap ada di HIMAB.  Saat itu saya menerima karya dan membagi job agar tidak kesulitan.
  • Rahman (2003)                      : Karikatur
  • Saifullah Fadli (2007)             : Cerpen
  • Sigit Walgito (2008)               : Kajian Dunia Arab, Tokoh Arab, dan desain.
  • Muhammad Anhar (2008)      :Opini, dan karikatur
  • Asriani (2008)                        : Puisi
  • Nursija (2009)                       : Berita Arab
Saya sendiri (Zulya Hamida angkatan 2008) membuat komik bahasa Arab, cerpen, mufradat bahasa Arab, berita Kampus, resensi buku, dan gallery foto.  

            Dalam program kerja buletin seharusnya terbit setiap bulan, akantetapi karena terkendala kesibukan dan kemalasan dari beberapa anggota, di tambah lagi tugas kuliah yang menumpuk membuat saya dan teman-teman tidak mampu lagi untuk melanjutkan buletin ini. Saya sangat berharap di pengurusan selanjutnya BULETIN SAHARA tetap eksis. Jayalah HIMAB…Jayalah Buletin. Semangat saudaraku……!!!


BENTENG ROTTERDAM - MAKASSAR

2 komentar


 
Seminar Internasional  1 Oktober 2011
Sebelum berangkat ke benteng Rotterdam, awalnya kami mengadakan sebuah seminar besar yaitu seminar Internasional. Seminar ini dihadiri kurang lebih 250 peserta. Ini adalah seminar pertama yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Asia Barat (HIMAB) pada tanggal 1 Oktober 2011. Peserta yang hadir pun kami buatkan sertifikat, sebagai bentuk partisipasinya karena telah menghadiri kegiatan kami dengan tema "Peran Universitas dalam Proses Kemerdekaan Palestina".

Sertifikat Seminar Internasional

Kegiatan ini kami lakukan waktu itu karena sedang maraknya Israel menyerang Palestina. Seminar ini dihadiri oleh pembicara yang cukup terkenal. Mereka adalah:
Dr. Mohammad Farazandeh  (Kepala Kebudayaan Duta Besar Iran)
Dr. Irwan Akib, M.Pd (Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar)
Prof. Dr. Arismunandar., M.Pd (Rektor Universitas Negeri Makassar)
Prof. Dr. Abdul Rahim Yunus (Wakil Rektor UIN)
Dr. Hj A. Majdah Agus Arifin Nu'mang (Rektor Universitas Islam Makassar)
Prof. Dr. Hj. Masrurah Mochtar, MA (Rektor Universitas Muslim Indonesia)

Kegiatan ini hanya kami rancang selama satu minggu dengan jumlah panitia yang tidak terlalu besar, dan hasilnya sungguh sangat memuaskan. Usai seminar, kami langsung ke rumah jabatan wali kota makassar yaitu Ilham Arif Sirajuddin. Kami mengantar kedubes Iran saat itu. Beliau orangnya sangat ramah dan menganggap tamu adalah raja, bagaimana tidak? kami dihidangkan kue yang sangat lezat.

anak HIMAB bersama walikota dan istrinya
Jumlah yang berangkat waktu itu hanya ada sekitar 14 orang. Mereka adalah Syarif, Akbar, Rijal, Riyad, Gali, Wahyu, Adi, Lia, Fitri, Ulfa, Rini, Rina, Mala, dan Ainul.

Perjalanan kami tidak sampai di rumah walikota saja, dengan menggunakan avanza hitam milik Fitri, kami pun meluncur ke benteng Rotterdam, untuk bersantai dan mengambil foto.

Benteng Rotterdam Makassar

Sekilas tentang sejarah dari Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang). Benteng ini adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan.

Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian Timur.

Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerah-daerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.

Herma, Lia, Ana, Fitri, Ulfa Rini, Rina, Mala, dan Ainul EUFRAT 2008
Waktu itu kami datang terlambat, saat tempat bersejarah sudah tertutup, kami datangnya sore hari, tapi hal itu tidak membuat kami kecewa, karena kami habiskan waktu dengan berpose ala artis Belanda....hahahah...jujur kami tidak janjian dalam hal pakaian, tapi aku sangat senang karena rata-rata kami menggunakan baju gamis. Aku hanya berharap semoga kebersamaan ini akan terulang kembali. Aamiin.....

PANTAI LOSARI - MAKASSAR

4 komentar

Tempat wisata yang Lia kunjungi selanjutnya adalah pantai Losari yang terletak di sebelah barat kota Makassar. Pantai ini menjadi tempat bagi warga Makassar untuk menghabiskan waktu pada pagi, sore dan malam hari menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat indah.

Waktu itu Lia berkunjung di pagi hari bersama rombongan anak GAMMARA dari LBB Triesakti Indonesia.
GAMMARA angkatan I di LBB TRIESAKTI

Tempat Lia menjadi tentor bahasa Indonesia sejak tahun 2012-2013. GAMMARA adalah angkatan pertama di LBB Triesakti. Sebuah bimbingan baru yang dipelopori oleh Sugeng Rianto selaku mantan pimpinan dari LBB Gadjah Mada. Peresmian awal angkatan kami ini, kami lakukan di pantai Losari.
Perkumpulan anak GAMMARA TRIESAKTI

Kami berkunjung sekitar pukul 05.00 wita. Sengaja kami berangkat pagi hari untuk menikmati indahnya pantai, dan menghirup udara segar. Setiap subuh, pantai khas Makassar ini sudah ramai dikunjungi wisatawan, selain dengan tujuan untuk belanja, juga untuk olahraga.

Jumlah kami yang berangkat saat itu sekitar 17 orang. 14 orang dari anak GAMMARA, dan 3 orang lainnya dari direktur dan manager (ka Aziz dan ka Riki) dari LBB Triesakti. Anak GAMMARA yang pergi saat itu adalah : Nuri (tentor English) , Nining (tentor English), Resky (tentor Matematika), Lia (tentor Bahasa Indonesia), Hera (tentor Biologi), Mila (tentor Bahasa Indonesia), Paida (tentor Fisika), Nia (tentor Matematika), Syukur (tentor English), Ikky (tentor Matematika), Rudi (tentor English), Padli (tentor Fisika) Muhammad (tentor English) dan Iban (tentor Fisika).

Persatuan Anak GAMMARA
Sebenarnya jumlah kami sekitar 15 orang, akantetapi saat itu Tika (tentor Biologi) tidak sempat hadir, karena ada halangan. Maklum dari fakultas Kedokteran, jadi memiliki banyak kesibukan. Aku berharap semoga rasa persaudaraan ini, akan tetap terjalin selamanya. Walaupun kita sudah terpisah satu sama lain karena kesibukan yang berbeda.

Kembali ke Laptop, tentang pantai Losari, konon dahulu pantai ini dikenal sebagai pusat makanan laut dan ikan bakar di malam hari (karena para penjual dan pedagang hanya beroperasi pada malam hari), serta disebut-sebut sebagai warung terpanjang di dunia (karena warung-warung tenda berjejer di sepanjang pantai yang panjangnya kurang lebih satu kilometer).

Salah satu makanan khas Makassar yang dijajakan di warung-warung tenda itu adalah pisang epe (pisang mentah yang dibakar, kemudian dibuat pipih, dan dicampur dengan air gula merah. Paling enak dimakan saat masih hangat).Saat ini warung-warung tenda yang menjajakan makanan laut tersebut telah dipindahkan pada sebuah tempat di depan rumah jabatan Walikota Makassar yang juga masih berada di sekitar Pantai Losari.

Fasilitas dan akomodasi yang tersedia yaitu berbagai transportasi umum seperti becak, taksi, bus, dan sebagainya. Transportasi tersebut bisa Anda gunakan untuk berkeliling di sepanjang pantai Losari. Tersedia juga berbagai akomodasi hotel dengan berbagai kelas, dari wisma sampai hotel berbintang. Rumah sakit, restoran, cafe, warung, kerajinan emas dan souvenir juga tersedia.

Bagi teman-teman yang ingin berkunjung ke Makassar, silahkan dicoba berkunjung di pantai Losari yah....:)

MESJID TERAPUNG - MAKASSAR

0 komentar

Mesjid Terapung Makassar
Selain mesijid kubah emas yang aku anggap unik karena kubahnya dari emas, adalagi yang lebih unik, yaitu mesjid Amirul Mukminin, atau biasa dikenal sebagai mesjid terapung. Mesjid ini terletak di kota Makassar, berdekatan dengan pantai Losari. Bentuknya yang unik karena mampu menerapung di atas air, ini mengundang banyak wisatawan datang untuk melihat keunikannya.

Mesjid terapung diresmikan dengan nama Masjid Amirul Mukminin oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia yang juga mantan Wapres Jusuf Kalla pada tanggal 21 Desember 2012 silam. Mesjid ini mampu menampung sekitar 500 jamaah. Sungguh luar biasa bukan? padahal terlihat sangat kecil. Mesjid ini ada tiga lantai, lantai pertama untuk kaum adam, lantai kedua untuk kaum hawa, sedang lantai ketiga untuk refresing. Lantai ketiga ini dijadikan wisatawan untuk menunggu matahari terbenam sambil menikmati pisang ngepe (ciri khas makanan Makassar). 

Saat masuk, kita akan melihat dua wc yang saling berhadapan antara WC laki-laki dan perempuan. Ada kalimat yang menjelaskan bahwa, untuk melihat kebersihan sebuah mesjid, maka lihatlah WCnya. Jika anda masuk ke dalam WC di mesjid ini, maka anda akan melihat seperti WC yang berada di ruang hotel, sungguh sangat bersih. Bagian dalam mesjid tidak kalah indahnya. Lampu yang digunakan adalah lampu gantung yang sangat cantik. Saat memandang jendela dari luar, kita akan disungguhkan keindahan panorama pantai Losari.
Lantai dua mesjid Terapung
Aku sudah dua kali menginjakkan kaki di mesjid ini, dan moment yang paling saat aku ingat adalah sejak bersama anak GAMMARA tahun 2012, kami membuat formasi T simbol dari Triesakti yang kami bentuk di bagian halaman mesjid saat subuh hari. 
Anak GAMMARA di Mesjid Terapung 2012
Terima kasih sudah membaca.

PANTAI AKARENA - MAKASSAR

1 komentar

Salah satu pantai yang terkenal di kota daeng kita, kota Makassar adalah pantai Akarena. Pantai ini terletak di jalan Metro Tanjung Bunga Makassar seberang GTC Mall. Akarena artinya bermain, jadi pantai ini bisa digunakan untuk bermain, seperti bermain volly. Harga tiket masuk tidak terlalu mahal kok, tidak sampai jual rumah...hehehe, hanya sekitar Rp.10.000,00 untuk orang dewasa, sedangkan untuk anak usia 5 tahun ke bawah tidak dipungut biaya. Pantai Akkarena ini buka setiap hari sejak pukul 07.00-22.00 WITA.

Saat itu aku mengunjungi pantai ini bersama anak EUFRAT 2008. Nama angkatan kami di sastra Arab UNHAS. Jumlah yang berangkat saat itu adalah 12 orang yaitu: Heppi, Ryad, Anhar, Malik, Usman, Sigit, Mala, Rini, Ainul, Rina, Ana, dan Lia.
EUFRAT di pantai Akarena
Kami berangkat sore hari dengan menggunakan motor, jadi cuaca sangat bersahabat. Aku sudah menganggap mereka seperti saudaraku sendiri.Saudara baruku di kampus merah. Walaupun berbeda latar belakang, rasa persaudaraan kami terjalin kuat. 
Gadis pantai menunggu rembulan
Gadis pantai yang menunggu rembulan itu sedang menatap keindahan panorama pantai. Kami menunggu sampai matahari terbenam. Di antara kami Rini yang pertama kali mendapatkan rembulannya. Maksudnya dia yang sudah menikah lebih dulu. Kami belum tahu kapan menyusulnya? hanya Allah SWT yang tahu. Yang pasti kami sudah berusaha untuk mencari rembulan kami.
Menunggu matahari terbenam (sunset)

Kembali tentang pantai Akarena. Pantai ini juga memiliki wahana rekreasi dan olahraga air seperti wahana bermain anak, jetski, banana boat, speed boat dan boat kecil. Salah satu sudut yang menyajikan keindahan pantai ini adalah sebuah dermaga laut yang menjadi landmark Akkarena. Panjang dermaga 150 meter dengan lebar 5 meter. Disinilah kita bisa menikmati keindahan matahari terbenam di perairan Selat Makassar. Dermaga ini juga digunakan untuk pendaratan kapal-kapal wisata berukuran kecil dan sedang.

Pantai Akarena
Pada malam hari pantai ini memberikan suasana berbeda dengan lampu remang-remang dan view alam yang indah. Semilir angin saat sunset plus tulisan “love” di ujung salah satu dermaga membuat pantai ini layak disebut sebagai tempat romantis untuk pasangan. Bagi umat Islam jangan takut untuk ketinggalan shalat, karena di kawasan pantai, terdapat mushallah untuk beribadah.

BENTENG SOMBA OPU - MAKASSAR

0 komentar

Benteng Somba Opu

Salah satu objek wisata yang bisa menampilkan ciri khas rumah adat di kabupaten yang ada di Makassar adalah benteng Somba Opu. Sulawesi Selatan memiliki 22 kabupaten, dan 3 kota yaitu:
  • Kabupaten Bantaeng (Bantaeng)
  • Kabupaten Barru (Barru)
  • Kabupaten Bone (Watampone)
  • Kabupaten Bulukumba (Bulukumba)
  • Kabupaten Enrekang (Enrekang)
  • Kabupaten Gowa (Sunggu Minasa)
  • Kabupaten Jeneponto (Jeneponto)
  • Kabupaten Kepulauan Selayar (Benteng)
  • Kabupaten Luwu (Palopo)
  • Kabupaten Luwu Timur (Malili)
  • Kabupaten Luwu Utara (Masamba)
  • Kabupaten Maros (Maros)
  • Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkajene)
  • Kabupaten Pinrang (Pinrang)
  • Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidenreng)
  • Kabupaten Sinjai (Sinjai)
  • Kabupaten Soppeng (Watan Soppeng)
  • Kabupaten Takalar (Takalar)
  • Kabupaten Tana Toraja (Makale)
  • Kabupaten Toraja Utara (Rantepao)
  • Kabupaten Wajo (Sengkang)
  • Kota Makassar (Makassar)
  • Kota Palopo (Palopo)
  • Kota Pare-Pare (Pare-Pare)

TMII (Taman Mini Indonesia Indah) cakupan rumah adatnya tingkat provinsi dari seluruh pulau yang ada di Indonesia, sedangakan somba opu cakupannya adalah kota dan kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan. Aku berangkat di kawasan wisata ini bersama anak sastra Arab UNHAS. Sewaktu melaksanakan rapat kerja Himpunan Mahasiswa Asia Barat (HIMAB). 

Mengelilingi objek wisata indah ini, aku hanya berempat. Aku didampingi  Ulfa, Ima dan Rina, karena teman yang lain masih sibuk dengan rapat. Kami mengambil waktu untuk refresing sejenak dengan melihat bentuk asli rumah adat dari setiap kabupaten. Beberapa rumah adat berhasil aku abadikan.

Rina, Ulfa dan Lia

Lia, Ulfa, dan Rina

Ulfa, Lia dan Ima
Rumah adat Toraja

Sekilas tentang sejarah dari Benteng Somba Opu. Benteng ini adalah benteng peninggalan dari Kesultanan Gowa yang dibangun oleh Raja Gowa ke-9 Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna pada abad ke-16. Benteng ini terletak di Jalan daeng Tata, Kelurahan Benteng Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan

Pada masanya tempat ini pernah menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan dimana rempah-rempah yang diperjualbelikan untuk beberapa pedagang baik dari Asia, sekitar Indonesia dan wilayah Eropa. Sayangnya tempat yang sering dikunjungi oleh beberapa masyarakat lokal dan internasional ini telah dikuasai oleh VOC pada tahun 1669, kemudian dihancurkan hingga terendam oleh ombak pasang. Pada tahun 1980-an pun benteng ini ditemukan kembali oleh beberapa ilmuwan yang datang ke tempat itu. Pada tahun 1990 benteng ini telah direkonstruksi sehingga terlihat lebih baik lagi. Pada saat ini pun Benteng Somba Opu telah menjadi sebuah objek wisata bersejarah karena di dalamnya terdapat beberapa bangunan rumah adat Sulawesi Selatan. Tempat ini pun juga menjadi perwakilan suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja. Tidak hanya itu saja, tempat ini juga memiliki sebuah meriam dengan panjang 9 meter dan berat sekitar 9.500 kilogram, serta ada sebuah museum yang berisi benda- benda bersejarah peninggalan Kesultanan Gowa

Tunggu petualangan Lia selanjutnya...!!! makasih

PANTAI TANJUNG BAYAM - MAKASSAR

1 komentar

Berfoto di halaman mesjid terapung
Aku sangat senang dengan pantai, apalagi melihat matahari dibibir pantai. Maka dari itu aku membuat rencana dengan sahabat dan siswaku di LBB Triesakti untuk berangkat ke tanjung bayam. Di kawasan ini hanya ada sunset, tidak ada sunrise, uniknya lagi. Mereka mau saja mengikuti keinginanku untuk melihat sunrise. Waktu itu aku betul-betul tidak tahu, kalo memang tidak ada sunrise disana. Jadi aku menyuruh mereka untuk berkumpul dipondokanku pukul 05.00 subuh. 

Jumlah kami yang berangkat saat itu ada sekitar 9 orang dengan menggunakan motor. Mereka adalah Dian, Lia, Pude, Puput, Ashar, Iban, Dhito, Rasyid, dan sahabat Ashar.  Mereka memang sahabat yang sangat baik, karena setelah shalat shubuh, mereka sudah ontime nongkrong di halaman pondok Salasabilah, nama pondokanku di UNHAS. Mereka rela untuk mengurangi waktu tidurnya hanya untuk menemaniku ke pantai tanjung bayam.

Puput, Pude dan Lia
Sejak semalam aku sudah menghubungi dua orang siswaku ini, mereka juga senang dengan pantai, makanya mereka juga ikut denganku.

Pereman Pantai Pagi
Kami tiba tepat pukul 05.30 di kawasan indah yang ramai wisatawan itu. Saat itu aku tidak merasa kecewa karena tidak melihat sunrise, karena aku selalu dihibur dengan gaya unik mereka. Kami menghabiskan waktu dengan berfoto.

Dhito dan Dian
Salah satu cerita lucu yang sampai saat ini aku ingat adalah ketika Dian dan Dhito lomba lari, katanya lomba itu dimenangkan oleh Dian, lantaran celananya Dhito hampir jatuh. Hahahah Its so funny. Seharusnya peraturannya mereka pulang balik lomba lari, ini malah pulangnya dengan kendaraan bebek.
Bebek kendaraan Pantai
Kami menyewa kendaraan unik itu sekitar Rp. 5000/ kepala. relatif murah untuk mengelilingi indahnya panorama pantai. Pasirnya memang tidak seperti pantai Bira di Bulukumba, tapi jangan salah wisatawan sangat ramai berkunjung, selain harganya murah, tempatnya juga mudah untuk dijangkau. Jika ingin berlama-lama di pantai, banyak vila yang disediakan untuk menginap dengan harga yang relatif murah. 

Aku sudah pernah menginap di pantai ini dalam rangka rapat kerja organisasi kampus, jika senja tiba, kita akan menikmati indahnya sunset. Udaranya juga sangat sejuk, apalagi pada malam hari, kita akan mendengar alunan ombak yang saling berkejar-kejaran. Sekedar informasi bagi para wisatawan yang ingin berenang tapi tidak tahu untuk berenang, ada juga kok penyewa ban, mulai ban kecil untuk anak-anak, hingga ban besar untuk dewasa.

Makanan khas makassar di pantai ini adalah pisang ngepe, jagung bakar 3 rasa dan penjual pop mie. Sebagian mata pencaharian orang-orang yang tinggal di pantai ini yakni sebagai pedagang, penyewa ban, juru parkir dan penyewa vila.

Sahabat blog yang belum pernah datang, silahkan deh berkunjung dijamin ingin kembali lagi. Makasih sudah membaca blogku...jangan lupa saran dan kritiknya yah.  

MONAS - JAKARTA

0 komentar

Petualangan Lia selanjutnya adalah mengunjungi salah satu tempat bersejarah di ibu kota Indonesia. Tentunya aku tidak sendiri, tapi aku pergi bersama rombongan dari Sastra Arab UNHAS, yaitu : Akbar, ka Hasrul, ka Rinda, ka Ramli, ka Acha, dan Ekhy.  Dari bandara Sulatan Hasanuddin kami berangkat ke Jakarta dengan tujuan untuk mengikuti lomba yang diadakan oleh Universitas Indonesia.
Foto bersama Mey dari UI tahun 2009


Kami tinggal selama seminggu di sana, karena temanku juga suka dengan travelling, maka di sela-sela waktu, kami menghabiskan waktu dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah salah satunya adalah Monas. Ada kalimat yang menyebutkan "Tidak afdal, jika berkunjung ke Jakarta, tapi tidak injak Jakarta, itu sama saja bohong" maka dari itu kami pun tidak ingin membuang waktu, dan bergegas menuju Monumen Nasional (Monas). 
Bentuk Monas tampak dari jauh
Sekilas mengenaik sejarah berdirinya Monas :
Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Sekitar 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan oleh komite. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tetapi tetap tak satupun yang memenuhi kriteria. Lalu ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Soekarno.

Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan oleh Silaban biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, kemudian Soekarno meminta arsitek R.M. Soedarsono melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, angka 8 dan angka 45, untuk melambangkan 17 Agustus 1945 di dalam rancangan monumen itu. Pembangunan monas yang di arsiteki Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono dibangaun pada 17 Agustus 1961.

Pembangunan terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, dimulai secara resmi oleh Presiden Soekarnoyang secara seremonial menancapkan pasak beton pertama. Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada Maret 1962. Dan dinding museum di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk akhirnya rampung pada bulan Agustus 1963.

Lalu pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966 hingga 1968 karena adanya Gerakan 30 September 1965, tahap ini sempat tertunda. Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969 sampai 1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Meski pembangunan telah selesai, masalah masih terjadi, yaitu kebocoran air yang menggenangi museum. Sejarah Monas dimulai sejak Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Soeharto.
Disekitar monas banyak kita jumpai warung soto betawi, lalapan, pedagang aksesories seperti gantungan kunci, tas, baju, dan pernak-pernik lainnya. Tidak hanya itu jika ingin buang air kecil tersedia pula bus khusus untuk WC...sungguh sanggat unik.
Bus Toilet

Oh iya petualangan Lia belum berakhir, masih banyak lagi petualangan yang lebih seru....silahkan dibaca petualangan selanjutnya!!! makasih.

MESJID KUBAH EMAS - DEPOK

0 komentar

Salah satu tempat wisata yang baik dikunjungi, bagi yang mengaku  dirinya Islam adalah Mesjid Kubah Emas yang berada di daerah Depok. Aku bersama ka Rinda. Salah satu seniorku yang berada di Sastra Arab Unhas, yang juga punya hobi travelling. Kami mengujungi tempat wisata tersebut. Mesjid ini dianggap sebagai tempat wisata karena kubahnya yang berasal dari lapisan emas. Sungguh luar biasa bukan?
Halaman depan mesjid Kubah Emas


Mesjid Kubah Emas nama asli sebenarnya adalah Masjid Dian Al-Mahri Masjid ini di bangun sejak tahun 2001 dan selesai pada akhir tahun 2006. 

Masjid Dian Al Mahri dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006, bertepatan dengan Idul Adha 1427 H yang kedua kalinya pada tahun itu. Pembangunannya sudah berlangsung sejak tahun 1999, namun baru dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006. Setelah shalat Idul Adha, pemilik masjid langsung meresmikan masjid ini. Ada sekitar 5 ribu jemaah yang mengikuti prosesi peresmian masjid ini. Fantastik


Dalam catatan sejarah, Masjid Kubah Emas Depok atau Masjid Dian Al-Mahri dibangun oleh seorang pengusaha asal Banten yaitu Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid.

Saat pertama kali melihat mesjid ini langsung merasa takjub, apalagi saat masuk di dalam mesjid. Sungguh aku merasa kagum dengan ornamen di dalamnya.
Bagian dalam mesjid Kubah Emas

Sebenarnya pengunjung dilarang untuk mengambil gambar, tapi karena aku terlambat melihat tanda larang yang tertulis "dilarang berfoto", maka moment itu aku abadikan, saat usai melaksanakan shalat duhur.
Bagian tengah mesjid Kubah Emas
Bagian tengah mesjid tidak kalah menariknya, tampak ukiran menarik setiap sisi mesjid, jika waktu menunjukkan pukul 12.00 ke atas, lantai mesjid terasa sangat panas, karena tidak ada atap di bagian tengah mesjid. Bagi sahabat blogger yang ingin berkunjung, nih Lia berikan rutenya:  

Jalan yang lebih mudah dan tidak berliku-liku untuk menuju ke Masjid Kubah Emas lebih baik melewati RS Fatmawati. Dari arah Jakarta masuk tol arah ke Pondok Indah dan keluar Fatmawati dan belok ke kiri, bila tidak lewat tol ikuti jalan TB Simatupang hingga belok ke kiri RS Fatmawati. Setelah itu ikuti jalan, melewati dua lampu merah hingga pasar Pondok Labu dan sampai di kampus UPN, kemudian ambil ke arah kanan. Ikuti jalan melewati Golf Pangkalan Jati sampai lampu merah dan belok ke kiri ke arah Depok. Jalan ini tinggal lurus saja terus sampai ke Cinere Mall, melewati SPBU, terus hingga sampai Masjid Dian Al-Mahri yang ada di sebelah kiri jalan. Selepas Cinere Mall, memasuki daerah Limo Maruyung kondisi jalan menuju ke lokasi agak rusak berlubang dan cukup sempit hanya 2 jalur, dan harus sedikit mengantri bila berpapasan dengan rombongan yang menggunakan bis-bis besar pariwisata. Jalan lain menuju masjid ini yaitu melalui jalan Sawangan Depok dan Karang Tengah Lebak Bulus yang nantinya juga akan bertemu dengan jalan Limo – Maruyung Raya.

Ingin tahu perjalanan Lia selanjtnya....ikuti terus yah...!!! makasih sudah dibaca

TMII - JAKARTA TIMUR

0 komentar

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) merupakan suatu kawasan taman wisata bertema budaya Indonesia di Jakarta Timur. Taman ini merupakan rangkuman kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat 26 provinsi Indonesia (pada tahun 1975) yang ditampilkan dalam anjungan daerah berarsitektur tradisional, seta menampilkan aneka busana, tarian, dan tradisi daerah. Di samping itu, di tengah-tengah TMII terdapat sebuah danau yang menggambarkan miniatur kepulauan Indonesia di tengahnya, kereta gantung, berbagai museum, dan Teater IMAX Keong Mas dan Teater Tanah Airku), berbagai sarana rekreasi ini menjadikan TMIII sebagai salah satu kawasan wisata terkemuka di ibu kota.
Eky, Acha, Akbar, Ramli, Hasrul, Rinda, Mey, dan Lia di salah satu rumah adat TMII

Aku berkunjung di TMII bersama anak HIMAB (Himpunan Mahasiswa Asia Barat) dan salahseorang dari anak UI yang bernama Mey. Dia adalah guide kami yang sangat baik. Takjub aku melihat tempat wisata tersebut, karena banyak bentuk rumah adat dari seluruh provinsi serta Istana Anak-anak pun juga terlihat begitu indah.
Istana Anak-ana di TMII 2009

Bagi sahabat blogger yang ingin tahu bagaimana bentuk asli dari rumah adat yang ada di Indonesia. Lia sarankan silahkan kunjungi TMII.Salah satu rumah adat yang berhasil Lia abadikan adalah rumah adat Sumatra Selatan. Bentuknya yang unik dengan ornamen bunga di setiap dinding membuatku senang berlama-lama di rumah adat tersebut.
Rumah adat Sumatra Selatan
Tidak hanya itu, aku bersama rombongan menjelajahi beberapa museum, untuk melihat alat-alat musik tradisonal , dan wayang khas dari Jawa.
Museum TMII


di sekitar TMII, kita akan banyak menjumpai pedagang aksesories, yang menjual bermacam-macam pernak-pernik menarik. untuk dibawa pulang tentunya. So, guys tunggu apalagi segera nikmati hari libur yang menyenangkan di TMII. Sampai ketemu di petualangan Lia selanjutnya yah!!! makasih